Sabtu, 22 Februari 2014

MENGAPA SULIT BELAJAR ?

Pernahkah anda mengamati seorang anak, katakanlah usia 2 atau 3 tahun yang sedang belajar ? Mungkin anda akan mengatakan mana mungkin anak seusia tersebut sedang belajar, tentu saja ya tidak pernah belajar. mereka hanya bermain-main saja sepanjang hari. Itulah cara belajar mereka. Mereka menggunakan semua panca indera mereka untuk belajar. Dengan menggunakan indera penglihatan,pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan secara bersama-sama. ya mereka menggunakan semua itu untuk melakukan kegiatan belajar. 
Sejak kecil mereka bermain-main (belajar) sampai mereka masuk ke playgroup dan juga Taman Kanak-Kanak, yang nuansa kegiatan sehari-harinya bermain-main sambil belajar. Namun ketika masuk ke jenjang Sekolah Dasar tidak demikian adanya. Mereka harus duduk manis dengan tenang, tangan bersedekap di atas meja diam, sedangkan gurunya berdiri di depan kelas dengan bergaya manusia pintar menjelaskan materi pelajaran yang telah disusunnya semalam di rumah sesuai denga silabus yang diwujudkan menjadi Rencana Pelaksanaan Pelajaran ( RPP ) sesuai dengan jatah waktu yang disediakan menurut kurikulum yang ditetapkan, dengan langkah-langkah pembelajaran yang terukur kemudian dilakukan evaluasi. 
Tidak ada lagi suasana bermain yang menyenangkan, komunikasi berlangsung satu arah, guru mengajar dan murid belajar.
Sebenarnya ada banyak faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan proses belajar, namun apa yang terjadi ? Mereka tidak menyadari akan faktor-faktor ini. Hanya menuntut anak-anak kita harus belajar untuk memperoleh nilai yang baik. anak menjadi tumpuan kesalahan jika nilai yang didapat kurang maksimal atau kurang baik. Bahasa sekarang adalah ketika nilai anak dalam evaluasi yang dilakukan oleh gurunya ternyata hasil nilainya kurang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ), maka yang disalahkan adalah anaknya atau muridnya. Mereka dianggap kurang serius, kurang perhatian, kurang tekun dalam belajar. ketika nilainya kurang muncul program-program yang membuat anak semakin terbebani dalam otaknya, yaitu dengan jam tambahan, mereka disuruh les ke bimbingan belajar di luar dengan dibebani harapan yang maksimal untuk memperoleh nilai yang diperoleh lebih baik. Namun yang sering terjadi justru anak menjadi malas dan bosan dalam belajar dan lebih tragisnya mereka malah tidak mau belajar. Mengapa hal ini terjadi ? Karena mereka hanya mengulang-ulang cara belajar dan materi yang sama seperti mereka dapatkan di sekolah. Mereka bosan dengan pembiasaan yang membosankan.
Faktor yang paling menentukan keberhasilan bagi anak adalah mengenal dan memahami bahwa setiap individu adalah makhluk yang unik yang berbeda satu dengan lainnya hal ini juga di dalam gaya belajar mereka masing-masing akan berbeda pula. masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Sehingga tidak ada yang lebih unggul atau lebih menentukan dengan satu gaya belajar yang dipaksakan untuk klasikal. Tidak ada gaya belajar yang lebih unggul dari gaya belajar lainnya. Semua gaya belajar sama uniknya, dan tentu saja semua gaya belajar sangat berharga. Sehingga satu dengan lainnya dalam pencapaian hasil belajarnya tentu saja berbeda-beda namun mereka nyaman dengan gaya belajarnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu jika ingin sukses maka guru harus dapat menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar murid-muridnya. Yang terjadi sekarang ini adalah gaya mengajar yang dilakukan oleh gurunya tidak sesuai dengan gaya belajar murid-muridnya. Yang lebih parah lagi jika muridnya tidak lagi mengetahui gaya belajarnya sendiri.
Hal itu terjadi di dalam kelas, selain komunikasi yang dilakukan satu arah, di sana juga terjadi ketidak cocokan gaya mengajar guru yang ada di depan kelas, dengan gaya belajar murid-murinya yang menanti dengan duduk tenang di bangku yang berjajar rapi dengan meja seragam dan buku paket yang sama untuk dipelajari. Guru menggunakan satu cara saja dalam mengajar atau jika divariasi juga masih tetap sama dengan moel pembelajaran yang lama, yaitu metode yang digunakan kecenderungan ceramah yang divariasi dengan pertanyaan dan setelah hampir selesai jam pembelajarannnya anak diberi tugas untuk dikerjakan di rumah yang namanya PR atau Pekerjaan Rumah. Guru mengajar dengan meggunakan media papan tulis dan juga buku paket, sama juga murid belajar dengan buku dan mengerjakan dengan menulis di buku tugas bahkan mengerjakan tes juga di kertas, yang kesemuanya itu dilakukan dengan cara visual. karena hanya dengan menggunakan satu gaya belajar tersebut akhirnya anak memiliki masalah akan hasil belajarnya.
Idealnya dalam proses belajar harus memaksimalkan kelima panca indera kita sebagai bentuk gaya belajar. namun demikian memang dalam situasi tertentu tidak mungkin menggunakan kelima panca indera kita dalam belajar. Dari kelima gaya belajar tersebut adalah : 1. Visual ( Penglihatan ), 2. Auditori ( Pendengaran ), 3. Tactile/Kinestetik ( Perabaan / Gerakan ), 4. Olfactori ( Penciuman ), 5. Gustatori ( Pengecapan ). Perlu diketahui bahwa dari kelima gaya belajar tersebut yang paling dominan dan sering dipergunakan adalah gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Namun demikian biasanya jarang seseorang menggunakan hanya satu gaya belajar. Tentu saja harus ada kombinasi dari kelima gaya bejara tersebut.
Yang perlu dipahami pula bahwa gaya belajar terdiri dari dua bagian yaitu gaya belajar yang bersifat eksternal dan gaya belajar yang bersifat internal. Gaya belajar yang bersifat eksternal bergantung pada media yang datang dari luar dirinya sebagai sumber informasi. sedangkan gaya belajar yang bersifat internal bergantung pada kemampuan kita dalam mengolah pikiran kita dan imajinasi yang ada pada kita. 

Sumber : Kunci Mengangkat Harta Karun dalam Diri Anak Anda . Adi W Gunawan

Pekalongan, 23 Februari 2014

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar